UCAPKAN RASA TERIMAKASIH ANDA DENGAN MENKLIK SALAH SATU IKLAN DIBAWAH INI

Tampilkan postingan dengan label News. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label News. Tampilkan semua postingan

Jumat, 06 Mei 2011

DARAH

dalam agama islam darah merupakan salah satu zat yang haram untuk di konsumsi seperti ditegaskan dalam QS.Al Maidah ayat 3.
Akan tetapi, di beberapa daerah di Indonesia masih ada yang mengkonsumsi darah yang disebut marus.buat non islam sih gak masalah.
Di Jerman dikenal pula sosis darah yang cukup populer.
Sekarang ini bukan hanya darahnya saja yang dimanfaatkan untuk makanan seperti yang telah disebutkan,
akan tetapi ingredien yang berasal dari darah juga telah banyak digunakan khususnya pada industri daging.
Hal ini karena ketersediaan darah dari hasil pemotongan hewan, khususnya di negara maju berlimpah ruah
(kira-kira 4% dari berat hewan) dan tentu saja ini menimbulkan masalah pada pengolahan limbahnya. seba jika dibuang secara
sembarangan tentu saja akan mengakibatkan masalah lingkungan
Oleh karena itu banyak usaha-usaha untuk memanfaatkan darah (daripada mubassir khan?)
dan sekarang telah sampai ke tahap komersial.
Penggunaan protein darah semakin populer karena dapat menjadi sumber besi yang penting,
meningkatkan kadar protein produk dan sebagai pengganti sebagian daging karena lebih murah.
Keadaan ini semakin menyulitkan umat Islam karena akan semakin banyak produk pangan yang menjadi rawan kehalalannya.
maka dari itu saya menghimbau kepada saudara2Q umat Islam untuk berhati-hati dan perlu mempelajari
ingredien apa saja yang bisa dibuat dari darah.
secara umum darah dapat di defenisikan sebagai gabungan dari cairan, sel-sel dan partikel yang menyerupai sel,
yang mengalir dalam arteri, kapiler dan vena; yang mengirimkan oksigen dan zat-zat gizi ke Jaringan dan membawa
karbondioksida serta hasil limbah lainnya
Darah terdiri daripada beberapa jenis korpuskula yang membentuk 45 % bagian darah.
Bagian 55 % yang lain berupa cairan kekuning-kuningan yang membentuk medium cairan darah yang disebut plasma darah.
Persentase darah pada beberapa jenis ternak berbeda-beda, tergantung pada genetik, jenis kelamin, spesies, strain,
umur serta lingkungan hidup ternak tersebut.misalnya saja kuda, presentase darah kuda di bandingkan dengan presentase
berat badannya yaitu 9,4%.
Kira-kira dua pertiga dari berat darah adalah cairan transparan yang dikenal sebagai plasma.
Plasma ini adalah koloid yang terdiri dari 90% air dan 7% protein.
Protein plasma ini terdiri dari albumin (4-5%), globulin (2-2.5%) dan fibrinogen (0,3-0,4%).
Selain itu plasma mengandung garam anorganik (0,9%) dan senyawa organik terlarut lainnya (2,1%).
Sepertiga bagian darah sisanya terutama terdiri dari hemoglobin.
Hemoglobin ini sebetulnya adalah protein yang paling banyak terdapat dalam darah,
kira-kira terdapat sebanyak 10% dalam darah, atau kira-kira 50% dari bahan kering darah.

Rabu, 04 Mei 2011

kendala yang dihadapi oleh petani di asia tenggara

Para petani di Asia Tenggara kerap terancam kelaparan,
padahal mereka rutin bercocok aneka tanaman pangan lo.
Situasi ini muncul karena mereka berada di bawah tekanan
untuk memenuhi target ekspor dan pada akhirnya mereka tidak bisa memenuhi kebutuhan pribadi secara mandiri.

Fakta ini dikemukakan dalam diskusi bidang agrikultur pada ASEAN Civil Society Conference/ Asean People’s Forum (ACSC/APF), 4 Mei 2011, di Jakarta.
Forum itu diikuti perwakilan masyarakat dan kalangan pegiat dari anggota Perhimpunan Negara Asia Tenggara (ASEAN).
“Tekanan terbesar para petani adalah mereka bercocoktanam untuk ekspor.
Sementara mereka sendiri tidak punya ketahanan pangan dan akhirnya seringkali harus membeli dari pasar,
” kata Arze Glipo, pegiat dari lembaga Asia-Pacific Network on Food Sovereignity, dalam pernyataan untuk publik.
Ketahanan pangan para petani makin buruk terutama karena mereka sendiri juga tedesak krisis lahan yang kini terjadi di Asia
Tenggara.
Peningkatan jumlah penduduk dan ekspansi perusahaan kerap membuat para petani kehilangan lahan dan terpaksa bekerja sebagai buruh kontrak.

Di Indonesia saja, menurut hasil diskusi itu, investor asing tercatat menguasai 1,3 juta lahan pertanian, yang kerap berasal dari lahan hutan. Para investor ini, menurut Indonesian Peasant Alliance (API), umumnya menggeser industri perumahan dengan industri pangan raksasa mereka.

Sementara di Filipina, konglomerasi pangan yang berafiliasi dengan investor Malaysia menanamkan dana US $ 1 miliar untuk mengembangkan 1 juta hektar tanah pertanian padi dan jagung. World Food Programme juga memperkirakan 37 persen anak di Laos mengalami kekurangan gizi.

Ancaman lain bagi para petani di kawasan ini juga datang dari rencana para anggota negara ASEAN menerapkan sistem perdagangan bebas. Glipo menyatakan perdagangan bebas akan membuat semakin banyak petani menanam pangan untuk pasar ekspor dan juga semakin tergantung mendapatkan pangannya sendiri dari pasar. Jadi mereka juga pada saat yang sama sangat rentan dengan naik-turunnya harga pangan.

“Solusinya sebenarnya sederhana. Kita harus menegaskan regulasi bagi para investor di sektor lahan termasuk investor asing,” kata Glipo. Ini berarti ASEAN harus menerapkan reformasi kebijakan lahan dan lebih mengutamakannya para petani kecil untuk melindungi hak atas pangan bagi seluruh rakyat di Asia Tenggara